Ziarah Ramadan di Punjer Wali Songo

Ziarah Ramadan di Punjer Wali Songo

Wilayah Trowulan selama ini hanya dikenal sebagai lokasi situs-situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit, yang bercorak Hindu-Buddha. Padahal di daerah yang masuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ini juga terdapat kompleks makam Islam dari abad ke-13 hingga ke-15, seusia dengan Majapahit. Pemakaman itu berada di Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Jaraknya sekitar 700 meter di sebelah selatan Museum Majapahit.

Baca Juga: Sewa Elf Jakarta

Dari puluhan makam di sana, yang paling dikenal dan dikeramatkan adalah makam Syekh Djumadil Kubro. Menurut keterangan dari berbagai sumber, Djumadil Kubro merupakan satu di antara sembilan wali atau Wali Songo generasi pertama yang mendapat misi dari Kesultanan Turki pada abad ke-14. Djumadil Kubro termasuk sesepuh Wali Songo generasi kedua, yang berdakwah di Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16.

Djumadil dipercaya sebagai cucu ke-18 Nabi Muhammad dari jalur putri Nabi, Fatimah Az Zahra. Garis keturunan Djumadil dari Rasulullah tertera dalam skema silsilah yang terpampang pada cungkup makamnya di Troloyo. Makamnya bersama keturunan dan pengikutnya berada di gedung tertutup berukuran 30 x 25 meter di tengah pemakaman Troloyo.

Makam Syekh Djumadil Kubro ramai dikunjungi peziarah khususnya pada malam Jumat Legi dalam kalender Jawa. Peziarah juga banyak datang selama Ramadan. “Saya hampir seminggu sekali berziarah untuk mencari berkah melalui doa dengan perantara orang alim,” kata Bahrun, salah satu peziarah asal Mojokerto. “Jika anak-anak saya akan ujian, saya sering berdoa di sini.” Sejumlah rombongan peziarah datang dari luar Jawa Timur.

Baca Juga: Rental Elf Jakarta

Mereka membaca tahlil dan Surat Yasin serta selawat bagi Nabi Muhammad. “Kami kebetulan mengikuti ziarah wali, dan salah satu yang kami datangi makam Syekh Djumadil Kubro,” kata Mursid, salah satu peziarah asal Kudus, Jawa Tengah. Selain berziarah, para pengunjung biasanya menunaikan salat lima waktu maupun salat malam di masjid yang berada di barat makam. Arkeolog yang juga bekas Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Aris Soviyani, meyakini Djumadil Kubro dimakamkan di Trowulan, tepatnya di Troloyo.

Buktinya adalah adanya nisan-nisan makam bercorak Islam di sana, meski tidak ada inskripsi yang menyebutkan nama orang yang dimakamkan. “Dia lama tinggal di Trowulan dan cara berdakwahnya damai dan santun, sehingga bisa diterima kalangan istana kerajaan,” kata Aris. Djumadil Kubro disebut-sebut sebagai tokoh paling berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-14 dan ke-15, khususnya di Trowulan, ibu kota Kerajaan Majapahit.

Namun namanya sama sekali tak disebut dalam prasasti atau kitab sastra dari masa Majapahit. Dalam beberapa sumber, Syekh Djumadil Kubro disebut bernama lengkap Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar yang berasal dari Kota Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Tidak diketahui kapan Syekh Djumadil datang ke Jawa. Ia diperkirakan hidup pada masa dua raja Majapahit, yaitu Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan Hayam Wuruk.