Masjid Sunan Ampel Yang Bersejarah

Masjid Sunan Ampel Yang Bersejarah

Masjid Sunan Ampel juga dikenal sebagai Masjid Ampel adalah sebuah masjid tua di desa Ampel yang didirikan pada tahun 1421. Masjid ini berada di kawasan Semampir, Surabaya, Jawa, dan ada sebuah pemakaman di dekatnya Sunan Ampel. Langkah-langkah 120 x 180 meter persegi telah menjadi salah satu atraksi agama di Surabaya.

Masjid ini megadopsi arsitektur Cina dan Arab. Bahkan beberapa kekuatan baik adalah kebutuhan untuk memperkuat komitmen. baik juga digunakan sebagai tempat pemurnian dan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Jelas, tempat ini memiliki banyak sejarah dan makna dari keindahan setiap bangunan menarik untuk mencoba.
Sunan Ampel Masjid Sejarah

Masjid ini termasuk sebagai salah satu masjid tertua di Jawa Timur. Awalnya, masjid ini adalah sebuah bungalow kecil yang kemudian diubah menjadi masjid. Bahkan tanpa tempat ibadah, fungsi masjid Sunan Ampel secara bersamaan di sebuah pusat pendidikan. Masjid ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sesuai dengan Keputusan Walikota Surabaya pada 26 September., 1996

Tempat Bersejarah di Surabaya ini adalah lokasi salah satu dari sembilan Walisongo menyebarkan agama Islam di Jawa, Raden Mohammad Ali Sunan Ampel atau Rahmatullah. Sunan Ampel berusia 20 diyakini oleh raja Majapahit Raja Brawijaya untuk berkhotbah dan menyebarkan agama Islam. Dalam aktivitasnya dakwah, masjid Sunan Ampel didirikan sebagai pusat pendidikan di daerah yang dikenal sebagai Ampeldenta.

Sunan Ampel Masjid juga dibuat renovasi baik sejauh ini, masih ada bangunan asli yang sisa-sisa yang pertama. Renovasi terakhir masjid selesai pada 1993 dengan total luas 4 hektar. Awalnya, renovasi yang dilakukan pada tahun 1926 oleh Duke Bupati R. Aryo Adiningrat seluas 22,7 x 20,55 meter. Kemudian dibuat ulang pada tahun 1954 dengan memperluas KH Manaf Murtadho dengan luas 25,7 x 50 meter. Sementara ekspansi ini kemudian dicapai oleh KH Idham yang meletakkan batu pertama. Pada saat itu, masjid memiliki luas 11 x 120 meter.

Tentu saja, tidak sewenang-wenang masjid Sunan Ampel dibangun dengan arsitektur yang unik. Setiap sisi bangunan mencerminkan makna yang dalam yang membuat bangunan ini indah sepanjang waktu. Jadi jika ingin wisata religi, masjid ini bisa dijadikan destinasi. Berkunjung sekaligus melakukan ibadah sholat saat jam masjid digital adzan telah menandakan waktu sholat.

Atap masjid untuk mengadopsi unsur-unsur Kerajaan Majapahit

Masjid Sunan Ampel dibangun dengan atap seperti kanopi atau tiga tingkat piramida. Bentuk atap diadopsi dari arsitektur khas kerajaan Majapahit. Dalam tradisi Jawa, header adalah representasi dari sebuah gunung, di mana gunung ini dianggap suci. Atap ini memiliki unsur-unsur arsitektur Hindu – Jawa. Tetapi arti dari bentuk atap adalah Islam, iman dan amal. Untuk menjadi benar Muslim keharusan pilar melksanakan Islam, percaya pada rukun iman, dan untuk melaksanakan amal yang menyerah kepada Allah dan seluruh kultus.

Susunan atap masjid ini didukung oleh empat pilar jati. Pilar, masing-masing berukuran 17 x 0,4 x 0,4 meter tanpa sambungan. Ketinggian pilar 17 meter, yang menunjukkan jumlah doa dalam doa-doa sehari-hari. 17 meter tiang tinggi makna yang sangat mendalam. Kutub adalah dasar dari sebuah bangunan, dan doa yang merupakan pilar agama.

Masih ada bagian dari masjid ini masih dipertahankan keasliannya. Ada 48 pintu yang membentang di sekitar dinding masjid. Pintu memiliki lebar 1,5 m dan tinggi 2 meter. Bagian atas dari desain pintu melengkung yang menunjukkan pengaruh arsitektur Arab. Sementara antara pintu dan model kurva, ada relief yang menghiasi pintu indah.

Di luar Masjid Agung Sunan Ampel ini, ada lima pintu mengelilingi. Pintu biasanya dimodelkan Hindu – Budha berpadu dengan nilai-nilai Islam dan arsitektur Jawa. Lima dari pintu ini adalah refleksi dari lima rukun Islam.

Berapa banyak filosofi dalam pembangunan masjid ini. Setiap detail arsitekturnya mencerminkan agama Islam di masa Kerajaan Majapahit. Masjid ini juga kaya dalam sejarah penyebaran Islam, khususnya di Jawa yang dilakukan oleh Sunan Ampel. Dengan demikian, bangunan ini tidak hanya menampilkan kuantitas fisik, tetapi juga nilai spiritual yang mendalam.